Suara Redaksi “Haruskah bailout Century terus dibahas?”

Barack OBAMA “Sebaiknya konflik politik segera diakhiri. Atmosfer ekonomi mulai terpengaruh.”

Aprindo Desak Pembatasan Jenis Komoditas Dalam AC-FTA

Posted by antasari on Jan 8th, 2010
Visited 442 times, 1 so far today and filed under Ekonomi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

>

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengusulkan pembatasan jenis komoditas yang diperbolehkan masuk secara bebas di pasar domestik. Langkah tersebut dilakukan agar tidak langsung menghantam langsung produk domestik setelah pemberlakuan Asean China- Free Trade Agreement (AC-FTA).

Barang-barang buatan Cina yang siap menyerbu pasar domestik

Barang-barang buatan Cina yang siap menyerbu pasar domestik

Ketua DPD Aprindo Jawa Timur (Jatim) Abraham Ibnu mengatakan, pengusaha dan pemerintah harus sinergi untuk membatasi jenis komoditas tertentu dan menentukan kriteria-kriteria barang yang sekiranya tidak terlalu banyak dipakai. Pembatasan itu untuk melindungi produksi industri terutama industri di hulu berupa pabrikan yang menyerap tenaga kerja besar.

“Kalau sampai tidak ada pembatasan dan barang-barang dari industri hulu kalah saing, maka akan mengancam tenaga kerja (PHK),” tandasnya. Ibnu mencontohkan misalnya untuk alas kaki, perlu ada pembatasan pada jenis alas kaki yang model apa dan bagaimana yang diperbolehkan. Dalam beberapa hari terakhir ini, dampak penetrasi barang dari Tiongkok belum serta merta dapat dilihat langsung. Karena bisa jadi masih dalam proses pengiriman ke Indonesia.

“Sebenarnya sudah banyak barang China (Tiongkok) yang masuk legal maupun ilegal dan sejak diberlakukannya perdagangan bebas China-Asean ini tidak lantas serta merta dan belum signifikan,” katanya.

Namun dia memprediksi serbuan barang-barang dari Tiongkok akan mulai dirasakan pada minggu ketiga bulan ini. Sebab pada 14 Februari nanti ada perayaan Hari Imlek yang berbarengan dengan Hari Valentine. Salah satu komoditas yang dikhawatirkan akan jadi ancaman adalah pakaian atau barang lain yang bermotif batik. “Jadi bukan batik, hanya motifnya yang batik, baik pada pakaian atau barang lain. Sekarang banyak barang yang bermotif batik dari Tiongkok,” ujarnya.

Ibnu mengatakan, hingga kini mayoritas masyarakat masih sensitif terhadap harga. Ketika ada barang yang jenisnya sama, mana yang harganya murah akan dipilih, tidak peduli itu produk dalam negeri atau barang dari Tiongkok. Hingga kini menurutnya, barang-barang Tiongkok memiliki keunggulan dengan produktivitas yang besar dan harganya lebih murah.

Dia berharap berbagai industri dan UMKM meningkatkan kualitas produknya. Aprindo juga melakukan pembinaan pada UMKM agar meningkatkan produk, kualitas dan packaging-nya agar tidak kalah saing dengan barang dari Tiongkok. Transaksi ritel di Jatim selama tahun 2009 hanya mencapai sekitar Rp 12 triliun. Realisasi ini belum mencapai target yang dipatok Rp 13 triliun.

“Ada banyak faktor misalnya penurunan daya beli masyarakat dan mungkin juga pengaruh barang China yang sudah lama masuk sebelum pemberlakuan perdagangan bebas ini,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Regional Economic Development Institute (REDI) Indra N Fauzi mengatakan, seluruh industri di Tanah Aair termasuk di Jatim harus memperkuat nilai komoditas unggulannya ditengah iklim perdagangan bebas.“Perdagangan bebas China-ASEAN FTA yang sudah diberlakukan akan menimbulkan banyak konsekuensi terhadap sektor industri Tanah Air.

Jika tidak dilakukan revitalisasi, sektor industri dalam negeri akan semakin terpuruk karena kalah saing dengan produk cari Tiongkok yang akan semakin menyerbu pasar domestik,” ungkapnya.

Sumber : Investor Indonesia

Fakta & Peristiwa terkait:

Leave a Reply

Advertisement

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner