Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abu Bakar Ba’asyir, menepis tudingan polisi tentang adanya penggalangan dana di kalangan JAT untuk pendanaan teroris. Bahkan menurutnya saat ini JAT kesulitan untuk pembiayaan jamaah dan kelaskaran yang dimiliki.
Dia menerangkan bahwa Abdul Haris yang disebut polisi sebagai donatur Rp 400 juta adalah Amir JAT Wilayah Jakarta. Ba’asyir menyebut kondisi kehidupan Haris bukan orang yang kaya-raya sehingga mengherankan jika orang semacam tersebut mampu memberikan donasi sebegitu besar.
Bahkan, menurutnya, saat ini JAT Wilayah Jakarta kesulitan dana karena kantor JAT yang beberapa waktu lalu digrebek polisi hanyalah rumah pinjaman. Saat penggrebekan polisi terjadi, sebenarnya saat itu JAT sedang persiapan untuk pindah. Bahkan sebagian besar barang sudah dibungkus di lantai atas. Namun saat itu belum menentukan tujuan kepindahan.
“Kita ini mau nyari uang Rp 40 juta saja mengkis-mengkis (tersengal-sengal), lha kok malah ada yang menuding kita mampu menyumbang orang sampai Rp 400 juta. Bahkan saat itu kami sedang berpikir untuk melelang barang untuk biaya pindahan itu,” ujar Ba’asyir kepada wartawan di Kantor Pusat JAT di Jalan Batik Keris, Cemani, Sukoharjo, Sabtu (15/5/2010).
Seperti diberitakan sebelumnya, Mabes Polri menyita dana aksi terorisme di Aceh yang disebutkan mencapai Rp 1 miliar. Kapolri, Bambang Hendarso Danuri, menyebut dana tersebut berasal dari orang bernama Abdul Haris sebesar Rp 400 juta, Haryadi Usman sebesar Rp 100 juta, dr Syarif Usman sebesar Rp 200 juta, dan dari almarhum Maulana berupa sejumlah uang ringgit, dolar dan rupiah.





