Jumat, 12 Maret 2010 | 21:32 WIB
JAKARTA, – Gubernur DKI, Fauzi Bowo, dan pengunjung kawasan Kota Tua Jakarta bakal menyaksikan pemandangan luar biasa Sabtu (13/3/2010) malam. Pada jam 19.00 gedung Museum Sejarah Jakarta akan “diobrak-abrik” oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia.
Acara Kota Kreatif Jakarta Punya! merupakan kerja sama British Council dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kadin Jakarta dalam upaya merevitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta dengan menjadikannya ruang bermain bagi orang-orang kreatif. Gubernur DKI akan hadir untuk membuka acara tersebut. Dalam acara ini juga akan diluncurkan untuk pertama kalinya suvenir kota Jakarta bertajuk Jakarta Punya!
Siaran pers British Council, Jumat (12/3/2010) menyebutkan, tanggal 13 Maret, pukul 19.00, seniman Inggris dan Indonesia akan “merobohkan” Museum Sejarah Jakarta. Sebagai gantinya mereka akan menumbuhkan kembali hutan rawa yang dulu menguasai dataran tersebut, sebelum VOC dan Jan Pieter Zoon Coen menjadikannya pusat pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.
Monyet, burung, dan buaya kembali berkeliaran. Sekejap kemudian, gedung berusia 300 tahunan itu “bangkit kembali”. Tapi, kali ini para seniman grafiti akan mencorat-coret seluruh dindingnya dengan Batik. Para penari topeng Betawi, musisi rock, dan pesilat berlompatan dari jendelanya, merebut kembali kawasan tua itu sebagai taman bermain orang-orang kreatif!
Transformasi Taman Fatahillah dari masa lampau ke masa depan sebagai ruang kreatif sebenarnya cuma ulah kreatif seniman Inggris-Indonesia. Mereka menggunakan teknologi Proyeksi 3 Dimensi Video Mapping yang baru 3 tahun lalu ditemukan di Eropa. Gambar bergerak, fotografi, dan grafis komputer digabungkan mengunakan perangkat lunak dan keras nan canggih lalu disorotkan ke dinding gedung untuk menciptakan pertunjukan mengecoh mata itu.
Pertunjukan seni Video Mapping 3D yang baru pertama kali digelar di Indonesia itu mempertemukan seniman multimedia top asal Inggris, D-Fuse, dengan sineas muda Sakti Parantean dan Adi Panuntun, fotografer Feri Latief, dan penulis Taqarrabie.
Kiprah mereka menanggapi upaya Pemerintah DKI Jakarta untuk merevitalisasi Kotatua Jakarta sebagai pusat industri kreatif. Upaya ini mengajak segenap pemangku kepentingan untuk mentransformasi gedung dan kawasan tua yang tadinya hanya menjadi gudang bagi barang-barang tua menjadi “layar”, “panggung”, dan “ruang eksperimen” baru bagi generasi kreatif saat ini.
Sejauh ini pemerintah masih menghadapi berbagai tantangan kendati rencana revitalisasi itu sudah dicanangkan sejak zaman Ali Sadikin sebagai gubernur.
Sebagai upaya untuk menumbuhkan kembali bisnis, menciptakan lapangan pekerjaan, sekaligus mengembalikan rasa kebanggaan warga Jakarta, Kadin Jakarta juga akan meluncurkan souvenir khas Jakarta, Jakarta Punya! pada acara tanggal 13 Maret nanti.
Jakarta Punya! merupakan bagian dari program Kadin Jakarta Service City yang tujuannya adalah menjadikan ibu kota sebagai tempat yang lebih baik untuk hidup maupun berbisnis. Program ini mencanangkan 5 keunggulan kota Jakata di bidang kewirausahawanan, pariwisata, infrastruktur, pemodalan bisnis, dan reformasi birokrasi.
Cindera mata Jakarta Punya memberi perwujudan yang kongkrit pada cita-cita itu. “Jakarta punya banyak hal, pameran seni dan kriya, konperensi berkelas internasional, pusat perbelanjaan. Tapi tak ada yang mewakili citra Jakarta,” ujar Fathya Harmidy, pengusaha muda anggota Kadin Jakarta yang menangani program ini.
Jakarta Punya! akan menampilkan berbagai disain — mulai dari kaos t-shirt hingga boneka, tas, dan buku catatan — yang akan mendorong pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah sekaligus mengembalikan rasa bangga warga Jakarta pada kotanya.
Selain dua mata acara tersebut, acara Kota Kreatif Jakarta Punya! juga akan menampilkan serangkaian lokakarya di pagi hari pada 13 Maret. Dua orang pakar kota kreatif Inggris akan memfasilitasi para pembuat keputusan di pemerintah, pelaku bisnis, dan komunitas industri kreatif untuk mengembangkan ide-ide regenerasi Kotatua melalui kegiatan seni dan kreatifitas.
Pengunjung juga bisa menikmati pemutaran film-film pendek tentang transformasi ruang-ruang public menjadi ruang kreatif di Inggris dan di Indonesia. Di antaranya film pendek karya distro 347 yang menggambarkan komunitas skateboarder di Bandung memperbaiki trotoar, dan membuat tong sampah yang bisa dinikmati pejalan kaki sekaligus dipakai buat bermain.
Menjelang acara Video-Mapping dan peresmian Jakarta Punya! penonton akan disuguhi atraksi Marching Band Museum Bank Mandiri, tanjidor, dan penampilan musisis perkusi dan akustik ternama lainnya.








