Budayawan Radhar Panca Dahana mengatakan, Gus Dur tidak hanya di masa ia jadi Presiden memberikan perhatian luas ke dunia seni dan kebudayaan, tapi sejak awal tahun 1980-an. Di masa itu, dunia seni dan kebudayaan sebenarnya mendapatkan jenderal baru, yang dengan senjata kata-katanya, rajin memperjuangkan posisi seni dan kebudayaan dalam berbagai sektor hidupnya lainnya, yakni sosial, politik, ekonomi, agama.
Sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur lelaki berkaca mata tebal itu berperan kuat mengusik kesenian untuk tidak asyik sekaligus membusuk di dalam tempurung egoismenya sendiri . Di masa ketika rezim pemerintahan mencengkeram kuat hampir semua kegiatan ekspresional, banyak bagian dari kerja kesenian termasuk kerja intelektualnyayang tiarap atau sekurang-kurangnya bersembunyi dalam retorika teoritis.








