2010-02-26 20:55:34 – Jakarta -
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menegaskan Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan untuk memilih pemimpin bukan pemain. Diharapkan penggantinya bukan orang suka melakukan manuver-manuver, seperti manuver politik.
“Saya ingin muktamar besok itu untuk mencari pemimpin bukan pemain. Maksud pemain itu adalah orang yang suka manuver dan huru-hara alias Manuhara,” kata Hasyim Muzadi kepada detikcom di kantornya Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jum’at (26/2/2010).
Menurut Hasyim, selama ini organisasi NU selalu mencetak pemimpin bangsa. Karenanya, untuk mencari pemimpin di NU harus memenuhi kriteria seperti dapat diterima semua kalangan (acceptable), memiliki integeritas, dan kemampuan manajerial.
“Jadi ini semua akan digodok di dalam muktamar besok. Saya belum bisa mengatakan siapa tokoh yang sesuai kriteria itu, karena semua sedang dinilai. Mungkin dalam dua atau tiga minggu ke depan sudah muncul siapa-siapanya,” jelasnya, ketika ditanya siapa kira-kira tokoh yang dijagokan akan menggantikannya.
Sementara Wakil Sekjen PBNU Syaiful Bahri Anshori mewanti-wanti adanya kecenderungan elit politik mendorong salah satu kandidat Ketua Umum di muktamar. Dia berharap, Ketua Umum PBNU yang akan menggantikan KH Hasyim Muzadi adalah sosok yang mampu mengayomi semua warga NU yang ada di mana-mana.
“Oleh karena itu, kandidat yang didukung partai politik akan sulit didukung oleh wilayah dan cabang, sebab mereka sebenarnya sudah tahu kebutuhan NU ke depan,” tandasnya.
(zal/Rez)








