Suara Redaksi “Haruskah bailout Century terus dibahas?”

Barack OBAMA “Sebaiknya konflik politik segera diakhiri. Atmosfer ekonomi mulai terpengaruh.”

Posts tagged with the keyword: ‘Universitas Indonesia’

Hasil Paripurna Century Proses Politik, Pemakzulan Tunggu Proses Hukum

Hasil Paripurna Century Proses Politik, Pemakzulan Tunggu Proses Hukum

2010-03-04 09:21:45 – Jakarta -
Sidang Paripurna DPR memutuskan ada permasalahan dalam bail out Bank Century. Meski demikian, keputusan sidang tersebut adalah hasil proses politik, bukan proses hukum. Jalan pemakzulan masih panjang.”Ini kasus politik, kalau pemakzulan harus ada kasus pelanggaran hukum,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia, Maswadi Rauf, kepada detikcom, Kamis (4/3/2010).Menurut Maswadi, Pansus Century hanya memperkuat hasil temuan BPK dan PPATK. Selanjutnya hasil sidang Paripurna harus ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.”Apa yang dilakukan DPR memperkuat temuan BPK dan PPATK, keputusan itu (hasil sidang paripurna) mendukung pedapat itu. Ini dorongan kuat aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus itu,” jelas Maswadi.Maswadi menambahkan, apabila lembaga hukum yang melakukan pengusutan kasus bail out ini menemukan adanya pelanggaran hukum, maka bisa saja temuan tersebut dijadikan bahan oleh DPR untuk melakukan impeachment terhadap Presiden SBY yang telah mengaku bertanggung jawab dalam kasus tersebut.”Kalau KPK mengatakan ada pelanggaran hukum, DPR bisa menggunakan untuk impeachment. Tapi kalau DPR menganggap tidak harus diimpeachment ya tidak. Tapi kalau KPK membuktikan ada pelangaraan hukum itu modal yang kuat untuk DPR,” pungkas Maswadi. (ddt/nrl)

Selly Jerat Korban dengan Nasehat ‘Bahagiakan Orangtua’

Selly Jerat Korban dengan Nasehat ‘Bahagiakan Orangtua’

2010-02-27 14:59:43 – Jakarta -
Korban Selly kembali berbicara. Vica dan Rahma Soraya mengaku tertipu dengan Selly dengan dalih mengajak bisnis pulsa. Keduanya pun memberikan Selly uang senilai Rp 10 juta. “Dia meminta menyetor uang sebanyak Rp 10 juta dengan dua kali transfer. Saya kenal Selly melalui facebook teman,” kata Rahma Soraya dalam pemeriksaan di Polresta Bogor, Jawa Barat, Sabtu (27/2/2010). Rahma mengatakan, setelah kenal, Selly mencoba mendekati teman-teman Rahma. Bahkan Selly sempat tinggal bersama teman Rahma, Soraya. “Selly pernah tinggal di rumah saya dan jalan sama saya selama empat hari,” kata Soraya. Menurut para korban, Selly selalu memberi nasihat yang baik. Sehingga mereka tidak pernah timbul kecurigaan kalau Selly berniat menipu. “Pesan Selly cuma satu. Bahagiain orang tua. Apalagi kita perempuan. Pesan Selly ke Soraya untuk membuat iba korbannya,” ungkapnya. Dengan perkataan Selly itu, Soraya menganggap Selly tulus. Soraya mengenal Selly berprofesi sebagai wartawan Kompas. Selly sedang mencari liputan soal DPRD gate Bogor. Selly juga bercerita bahwa ia ditinggal pacarnya yang meninggal. “Selly ngakunya jadi wartawan Kompas. Dia bercerita dia bisa diterima Kompas karena punya prestasi baik atas kuliahnya di universitas ternama Universitas Indonesia,” imbuhnya. Dengan sosok Selly yang baik, supel, dan ramah ini, keluarga Soraya pun mau menerima Selly tinggal di rumahnya. “Katanya dia juga dapat beasiswa sampai diterima di Kompas,” tandasnya. (gus/gus)

Insiden di Posko Bendera Dipicu Pengrusakan Sekretariat FH UKI

Insiden di Posko Bendera Dipicu Pengrusakan Sekretariat FH UKI

2010-02-15 01:04:31 – Jakarta -
Pihak alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) membantah telah menyerang pokso LSM Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera). Peristiwa di Diponegoro 58 tersebut dipicu akibat pengrusakan kantor Sekretariat FH UKI pada Juni 2009 lalu.”Kita bukan menyerang markas Bendera. Ini tidak ada kaitan politis,” kata Kuasa Hukum Politisasi Kasus, Sangab Surbakti, kepada detikcom, Senin (15/2/2010).Menurut Sangab, kejadian itu murni didasari persoalan internal antar alumni FH UKI. “Mereka ini sama-sama alumni FH UKI,” katanya.Dijelaskan Sangab, awalnya, Martin Silabesi dan Mangatur Silalahi serta 4 teman alumnus FH UKI lainnya, Jumat (12/2/2010) berniat mencari DH dan JS. DH dan JS dicari karena telah melakukan pengrusakan di kantor sekretariat FH UKI.”Ruang senat, ruang sekretariat alumni FH UKI dan beberapa kaca di ruang kelas di FH UKI rusak saat itu,” kenangnya.Sangab mengatakan, DH dan JS ini bahkan sudah dilaporkan ke polisi, 2 hari setelah melakukan penyerangan di sekretariat FH UKI. Namun, setelah 7 bulan kasus itu dilaporkan, keduanya tidak kunjung ditangkap polisi.”Padahal polisi tahu mereka suka nongkrong di situ (Diponegoro 58). Tapi aneh kenapa mereka tidak juga ditangkap,” ujarnya.Karena tidak kunjung ditangkap, Martin dan Mangatur kemudian berinisiatif menangkap sendiri. “Kebetulan, menurut informasi, Jumat 12 Februari kemarin, keduanya ada di situ (Diponegoro 58), lalu didatangi. Mereka sudah berbulan-bulan kami cari,” katanya.Setelah didapat kebenaran informasi itu, Martin, Mangatur dan keempat temannya yang lain datang ke Diponegoro 58 untuk menjemput DH dan JS. Namun, yang dicari tidak ada di tempat.”Hanya DH saja. Sedangkan JS kabur begitu didatangi,” jelasnya. Karena tidak bisa menemukan JS, para alumni FH UKI ini kesal. Pertengkaran di antara mereka pun pecah di bekas kantor PDI itu. (mei/irw)

Korban dan Tersangka Saling Kenal, Sama-sama Alumni UKI

Korban dan Tersangka Saling Kenal, Sama-sama Alumni UKI

2010-02-13 18:57:50 – Jakarta -
Dua tersangka telah ditetapkan polisi terkait penyerangan sekretariat Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera). Antara korban dan pelaku ternyata sama-sama alumni Universitas Kristen Indonesia (UKI).”Mereka sesama alumni UKI. Jadi tidak benar pelaku dan korban tidak saling kenal,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang kepada detikcom melalui telepon, Sabtu (13/2/2010).Edward menjelaskan, sebelum perusakan terjadi, pelaku sempat berdialog dengan korban. Namun karena mabuk, pelaku tiba-tiba memulai perkelahian.”Mereka datang ke sana mencari orang yang bulan lalu merusak kantor sekretariat mereka. Mereka sempat dialog tapi karena terindikasi minum-minuman keras jadi berantem,” jelas Edward.Edward sekaligus membantah adanya kelompok/parpol yang terkait dalam insiden tersebut. “Insiden ini tidak ada terkait parpol,” tandasnya.Saat ini polisi telah menetapkan MS dan MYS sebagai tersangka. Namun dimungkinkan jumlah tersangka akan terus bertambah. “Bisa saja (bertambah) karena mereka kan dalam satu kelompok 7-8 orang. Para tersangka kita kenakan pasal 170 KUHP (perusakan),” tandasnya. Sekitar pukul 23.30 WIB, Jumat (12/2/2010) malam, sekretariat Bendera dikabarkan diserang oleh kelompok tidak dikenal. Sebanyak 4 orang mengalami luka-luka. (ape/nwk)

Adnan Buyung : Kenapa Harus Takut sama SBY?

Adnan Buyung : Kenapa Harus Takut sama SBY?

Minggu, 7 Februari 2010 | 14:04 WIB

JAKARTA, — Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Adnan Buyung Nasution secara tegas menyatakan tidak takut dengan siapa pun dalam mengungkap kebenaran.

Kenapa mesti takut dengan SBY. Saat menjadi Wantimpres, saya tidak takut dengan SBY. Yang penting tujuannya buat bangsa dan negara.

Dalam diskusi di Rumah Perubahan bertajuk “Memprediksi [...]

Antara Pagar Istana dan Kisah Ibu Diana

Antara Pagar Istana dan Kisah Ibu Diana

Jumat, 5 Februari 2010 | 12:02 WIB

JAKARTA, — Sensitivitas pemimpin negeri lagi-lagi dikritik. Pada saat pemerintah sibuk klarifikasi tentang perbaikan pagar istana dan pembelian pesawat kepresidenan yang “memakan” anggaran negara puluhan miliar, di luar sana ada kisah tragis Ibu Diana dan tiga anaknya.
Diana adalah seorang ibu asal Tangerang yang meninggalkan ketiga anaknya di rumah [...]

Pengunjuk Rasa Tinggalkan Istana

Pengunjuk Rasa Tinggalkan Istana

Kamis, 28 Januari 2010 | 17:36 WIB
JAKARTA,  — Para pengunjuk rasa yang mengkritik 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono di depan Istana, Kamis (28/1/2010), berangsur-angsur membubarkan diri. Jalan Medan Merdeka Utara di depan Istana Negara, yang sebelumnya diblokir para pengunjuk rasa, kini mulai terbuka untuk kendaraan dari arah Gambir menuju [...]

Ceroboh,Dua Calon Wakil Menteri Belum Memenuhi Persyaratan Minimal

Ceroboh,Dua Calon Wakil Menteri Belum Memenuhi Persyaratan Minimal

JAKARTA – Pelantikan wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu dan Wakil Menteri Kesehatan Fachmi Idris ditunda. Penundaan mendadak itu dianggap sebagai sebuah kecerobohan.
Ahli hukum tata negara dari Universitas Indonesia, Budi Darmono menyayangkan kejadian itu.  Menurutnya, sebelum melakukan pelantikan wakil menteri, pihak terkait seharusnya melakukan penelitian terlebih dulu. Penelitian itu dimaksudkan untuk mengecek apakah calon wakil [...]

Komjen Susno Vs Bambang Widodo Umar

Komjen Susno Vs Bambang Widodo Umar

Komisaris Jenderal Susno Duadji akhirnya melaporkan Guru Besar Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar, atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik ke Polres Jakarta Pusat. Laporan itu terkait pernyataan Bambang di media.
“Kita telah niat baik dengan melayangkan somasi. Tapi niatan baik itu tidak ditanggapi,” ucap kuasa hukum Susno, Johnny Situwanda, saat membuat [...]

Wapres dan Menkeu Nonaktif?

Wapres dan Menkeu Nonaktif?

Pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Boni Hargen menilai desakan Panitia Khusus (Pansus) Angket Century DPR agar Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani nonaktif dari jabatannya adalah prematur. Ia mencurigai hal itu sengaja dilakukan pada awal kerja Pansus sebagai upaya kompromi politik dengan pemerintah.
“Saya mencurigai ada upaya politik untuk kompromi antara fraksi-fraksi di [...]